Sejarah Desa

Desa Caluk jika menurut temuan tim ada sekitar tahun 1600 – 1715 M. Hal ini di Caluk juga ditemukan sebuah makam tua yang tertuliskan dengan huruf Jawa 1846 M. Orang yang babat Desa Caluk bernama Ki SINGO WIDJOYO atau Ki SINGO LESONO. Dikisahkan ada seoarang Pangeran dari kerajaan Kartasura yang bernama Pangeran SURYONINGRAT beliau merupakan kerabat kraton dari Pengageng Seni/Budaya. Sebagai akibat dari Perjanjian Giyanti Kraton Kartasura pecah menjadi 2 (dua) yaitu Kartasura dan Yogyakarta serta masuknya pengaruh Islam dilingkup kraton, maka para Pangeran/Kerabat Kraton yang tidak mau masuk Islam memilih pergi meninggalkan kraton. Para kerabat keraton ada yang mengasingkan diri yang ke Lorog, Nanggungan, Pacitan, Ngendut, Sumoroto dan Slahung. Yang di Slahung bernama Pangeran SURYONINGRAT. Karena tidak mau memakai embel-embel keraton Pangeran SURYONINGRAT berganti nama Ki Ageng NOSARI atau Ki Ageng COMOLEK. Mengapa disebut COMOLEK, orang sekitar menceritakan bahwa matinya Ki Ageng COMOLEK adalah mati dengan cara mukso atau istilahnya mukso kanti moto melek. Ki Ageng COMOLEK mempunyai anak bernama Ki Ageng SOKERTO, Ki Ageng SOKERTO MEMPUNYAI anak Ki Ageng ONGGO JOYO. Adapun makam ketiganya :
a. Ki Ageng NOSARI/Ki Ageng COMOLEK dimakamkan di Gunung Gede Slahung;
b. Ki Ageng SOKERTO dimakamkan di Jajar Slahung;
c. Ki Ageng ONGGO JOYO dimakamkan di Karam Gayam Caluk.
Kemudian Ki ONGGO JOYO mempunyai anak Ki SINGO WIJOYO/SINGO LESONO. Oleh buyutnya (Ki Ageng NOSARI/Ki Ageng COMOLEK) diperintahkan untuk babat hutan/gunung Loreng sebelah barat. Dari sinilah kemudian berkembang menjadi cikal bakal desa Caluk. Ki SINGO WIJOYO/Ki SINGO LESONO gemar sekali mengembara/ lelono. Dari pengembaraannya Kemudian muncul beberapa pedukuhan diantaranya : JATILINGUK, BARAN/ MBARAN dan terakhir CALUK. Dikisahkan pada waktu memasuki wilayah Caluk sebelah timur disitu banyak sekali tumbuhan jati. Setiap orang yang melewati tempat itu pasti akan menoleh ke kiri atau ke kanan. Lingak-linguk dalam bahasa Jawa. Maka Ki Ageng SINGO WIJOYO/SINGO LESONO memberi nama JATILINGUK. Kemudian perjalanan dilanjutkan kearah barat dan berhenti di BARAN/MBARAN. Namun dulu belum ada namanya. Merasa kehausan Ki Ageng SINGO WIJOYO/SINGO LESONO minta air kepada orang yang sedang menenun. Karena tidak mau meninggalkan pekerjaannya si Penenun itu berbohong tidak mempunyai air. Begitu sampai tiga kali permintaan akan air oleh Ki Ageng namun jawabannya tetap tidak mempunya air. Dengan  perasaan dongkol Ki Ageng SINGO WIJOYO/ SINGO LESONO sepoto “Besuk daerah ini akan kekurangan air ”.
Kemudian melanjutkan perjalanan. Perjalanan Ki Ageng terhenti karena merasa tidak kuat menahan rasa haus akhirnya terhenti dibawah pohon ASAM (Asem:Jawa). Pada saat dibawah pohon itulah Ki Ageng SINGO WIJOYO/SINGO LESONO kejatuhan buah asam yang masih muda (Pentil:Jawa). Oleh Ki Ageng buah itu kemudian dimakan hingga rasa hausnya hilang. Merasa tertolong oleh buah asam yang masih muda Ki Ageng SINGO WIJOYO/SINGO LESONO berkata “Besok kalau tempat ini ramai akan kuberi nama CALUK “. Adapun tempat pada waktu minta air ke penenun itu di beri nama BARAN/MBARAN, yang berarti boro/mlancong. Daerah ini tepat berada disebelah utara Balai Desa Caluk. Adapun tempat Ki Ageng istirahat yang diberi nama Caluk itu berada disebelah selatan Balai Desa Caluk kurang lebih 200 m. Daerah BARAN/MBARAN dan sekitarnya memang tidak ada sumur. Karena siapapun yang membuat sumur tidak akan menemukan sumber air. Hal ini sebagai akibat dari sepoto (kutukan) atau memang kondisi geografis tanahnya. Wallohu ‘alam.
Adapun para pejabat Bekel atau Kepala Desa yang pernah memerintah Desa Caluk semenjak berdiri adalah sebagai berikut:
  1. Lurah pertama Desa Caluk adalah KERTO SENTONO yang memiliki masa kepemimpinan mulai tahun 1806 sampai dengan tahun 1851;
  2. Sepeninggal Mbah Lurah KERTO SENTONO adalah MANGUN SENTONO yang memerintah antara 1851 sampai dengan tahun 1886;
  3. Gantinya Mbah MANGUN SENTONO adalah PAWIRO SENTONO (Lurah Gering) yang memerintah pada tahun1886 sampai dengan tahun 1893;
  4. Pengganti dari PAWIRO SENTONO adalah MANGUN WIJOYO yang memerintah pada tahun 1893 sampai dengan tahun 1923;
  5. Gantinya MANGUN WIJOYO adalah KATNAWI yang memerintah pada tahun 1923 sampai dengan tahun 1925;
  6. Setelah akhir masa jabatan KATNAWI adalah MAD SEMANGUN yang memerintah pada tahun 1926 sampai dengan tahun 1965;
  7. Sepeninggalnya MAD SEMANGUN adalah KARTONO yang memimpin dari tahun 1965 sampai dengan tahun 1979.
  8. Setelah masa jabatan KARTONO berakhir digantikan oleh A. WAKIDI W yang memerintah dari tahun 1979 sampai dengan tahun 2001.
  9. Dengan berakhirnya masa jabatan A. WAKIDI W kemudian dilanjutkan oleh V. AGUNG SUHARDI yang memerintah pada tahun 2002 sampai dengan 2012.
  10. Setelah berakhirnya masa jabatan Bpk. V. AGUNG SUHARDI, kemudian jabatan Kepala Desa di pegang oleh Bpk. SUTONOWO yang memerintah dari tahun 2012 sampai dengan saat ini.